MASLAKON

Tradisi Berburu Menombak Ikan Di Morowali Utara Sulawesi Tengah


menombak ikan

Masyarakat pesisir Sulawesi Tengah mayoritaas adalah nelayan keturunan suku Banggai dan Bajo. Dalam menjalankan roda kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari laut dan segala isinya. Sebutan orang-orang lautpun diberikan tanpa alasan. Mereka memiliki cara perburuan ikan yang terkenal efektif.

Tiap daerah di Indonesia itu mereka selalu punya caranya masing masing dalam melakukan perburuan. Masyarakat pesisir Morowali Utara berburu ikan pakai tombak yang bermata tiga. Bentuknya seperti garpu tala. Kalau di sini disebutnya serampang. Kalau di daerah Banjar namanya Serapang. Dalam hal berburu pengenalan kawasan adalah faktor penentu keberhasilan. Untuk ekosistem pantai kawasan yang sehat biasanya ditandai dengan adanya kehidupan bawah air yang beragam.

Pertama-tama yang dilakukan untuk memulai berburu ikan yaitu mapping area dulu dimana spot-spot ikan yang bagus untuk berburu menggunakan tombak. Tapi kita cuma melihat posisinya saja dimana, karena kita tidak langsung menombak ikan dari tengah laut. Kita nanti akan ke pinggir kapalnya sandar dan kita akan menombak dari samping.

Masyarakat suku Banggai dan Bajo sangat ahli dalam melakukan mapping. Interaksi yang dilakukan secara kontinyu dan mendalami dengan lautan membentuk pribadi-pribadi yang mahir di sektor bahari. Misalnya seperti melihat pergerakan arus pantai. Titik potensial untuk melihat target sudah bisa ditentukan.

Perburuan ini memang sangat kompleks. Tidak hanya sekedar turun ke laut dan mencari ikan. Namun dalam pelaksanaannya dibutuhkan alat bantu. Hal ini menandakan bahwa masyarakat pesisir Sulawesi Tengah memiliki beragam cara perburuan yang unik. Untuk menombak ikan, ternyata masih ada satu lagi alat bantu disebut Tambula yang dibuat dari pohon bakau karena semakin terkena air laut kayunya akan semakin kuat, jadi semakin aman untuk dinaiki orang.

Tambula adalah istilah masyarakat Sulawesi Tengah untuk tiang penyangga. Tiang ini ditancapkan ke dalam air dengan jarak tertentu dari garis pantai. Waktu untuk membangun tiang tambula bisa dilakukan kapan saja. Namun khusus untuk titik pancang baru lebih mudah dibangun menjelang waktu air bergerak yaitu saat air pasang atau surut. Tambula ini lebih diproyeksikan untuk penggunaan jangka panjang. Dimana nelayan dengan mudah naik ke tiang langsung dari perahu.

Titik pasang tiang dapat dibangun dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Hal ini mengacu dari maksimal jarak jangkau tombak. Tambula ini juga dipasangnya tidak sembarangan. Kita sudah memprediksikan titik dimana pasang surut air supaya aman walaupun keadaan surut tetap bagian bawahnya tetap terendam air.

Cara menombak ikan seperti ini disebut Nyingke. Biasanya banyak dilakukan oleh masyarakat Banggai kepulauan sama Banggai Laut. Ini merupakan cara yang sangat keren banget soalnya memakai tombak, liat-liat ikan sambil duduk. Tapi duduknya harus cari posisi yang enak karena akan memakan waktu berjam-jam untuk menunggu ikan.

Masyarakat Banggai menggunakan cara ini sebagai alternatif kegiatan untuk mencari ikan ketika sedang musim cuaca buruk. Pada saat angin kencang aktifitas melaut sangat riskan untuk dilakukan. Atau ketika musim ikan yang bermain di sepanjang pantai. Nyingke bukanlah suatu perburuan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil ikan yang melimpah. Melainkan cara masyarakat untuk tetap bertahan dengan cara ramah lingkungan.

Cara menombak ikannya yaitu tangan kiri berfungsi untuk menyeimbangkan tombak kemudian juga menjadi untuk tempat akurasinya. Tangan kiri juga berfungsi untuk mengatur posisi menunjukkan posisi ikan berada. Kemudian tangan kanan memegang gagang tombak dengan cara dua jari atas digunakan sebagai rem dan juga sebagai power untuk mendorong tombak.

Pada perkembangannya teknik nyingke ini kemudian disebarkan ke seluruh penjuru Sulawesi Tengah oleh masyarakat Banggai yang merantau ke daratan utama. Dalam perairan yang berbeda, perburuan menggunakan tombak sebenarnya juga dilakukan oleh masyarakat yang lain. Misalnya di Kalimantan Selatan yang menggunakan serapang untuk berburu ikan di rawa-rawa. Masyarakat Nusa Tenggara Timur di pulau Lembata juga menggunakan tombak untuk berburu ikan di lautan lepas.

Sudah puncak surut pertanda perburuan harus diakhiri. Memang cara Nyingke ini sangat efektif. Terbukti manusia memang selalu punya cara untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan di Morowali Utara, Nyingke ini sangat istimewa.

No comments :

Post a Comment